Senin, 13 Juli 2015

*** PERMATA ***


Angin malam menghempas lembut
Tirai menyibak perlahan
Indah terlihat satu permata
Walau jauh kan selalu terkenang
Dan untukmu permata
Jenuhku sirna
Denyut nadiku menemani

Angin pun terus berlalu di malam itu
Namun, engkau permata
Tulus katamu menerawang
Anganku jauh
Rinai-rinai hidup terukir
Indah mempesona
Tirai pun kembali tersibak

Andai permata
Waktu tak berlalu
Untukmu ku kan bersenandung
Kata manisku untukmu
Akankah kau tahu, oh, permata
Angin pun kembali menghempas
Terkenang selalu dikau permata

Namun, mungkin hanya angan
Walau indah yang terbayang
Cerita itu dalam rinduku
Untukmu permata
Memori kan abadi
Dan biar angin berlalu
Kau permata, kan selalu terkenang



< Awal Juni ’95 >

** PERMATA **


Indah dan syahdu
Terasa menyentuh kalbu
Asa pun menerawang
Waktu kan alunkan gita sendu
Angin malam menemani
Nan lembut menembus kelam
Dan bagai teratai biru mempesona
Anggun menyentuh nuansa dalam dada

Riuh, debur ombak sayup-sayup
Angan pun semakin jauh
Tembang memori tercipta
Karena indahnya ... Satu permata
Walau semua telah berlalu
Untukmu permata, suara hatiku
Jerat pun tiada arti
Dalam langkahku
Akan ku tulis memori biru

Kau ... permata
Ungkapkan segala yang terasa
Dan cerita baruku kan tercipta
Impian kan jadi harapan
Namun, mungkinkah?
Tirai kan tersibak bersama
Angin malam nan lembut
Kini ... hanya dalam harapan
Angin pun terus berlalu
Malam pun terus berganti

Untukmu permata, ku tulis segalanya


* PERMATA *


Sepoi-sepoi angin berhembus
Tirai tersibak, permata tertampak
Membuka kelam kelabu
Dalam nuansa biru

Kala hari tlah berganti
Angin kembali berhembus perlahan
Menghempas kejenuhan
Saat bersenandung bersama
Dikau permata
Anganku jauh menerawang

Ketika malam menyelimuti
Ceriamu masih terasa
Jauh dan jauh semakin terasa jauh
Menyentuh sanubari
Mata hati terbuka
Nada sendu tercipta
Teralun syahdu

Dikau permata
Adakah cerita tercipta
Untukmu permata
Terselip harapan membara
Dalam hati dan jiwa merana
Permata slalu terkenang

“Akhir Mei ’95”